3 Sejoli

3 Sejoli (Episode 16)

Posted on

Judul : 3 Sejoli
Bagian 16 : Kenangan Indah yang Menjadi Luka

Waktu tidak benar-benar menghapus apa pun. Ia hanya mengubah cara kenangan muncul, kadang lembut, kadang menusuk tanpa peringatan. Bagi Rudi, Hanum, dan Sari, jarak yang kini terbentang justru membuat kenangan lama hadir lebih sering, seolah ingin diingatkan bahwa sesuatu yang indah pernah ada dan tidak pernah sepenuhnya hilang.

Rudi menemukan dirinya terjebak dalam ingatan pada hal-hal kecil. Bangku kelas dekat jendela yang dulu selalu ramai kini terasa sunyi. Ia teringat bagaimana Hanum pernah menggambar wajah lucu di sudut bukunya, lalu tertawa ketika ketahuan. Ia juga teringat Sari yang diam-diam menuliskan catatan kecil di lembar tugasnya ketika ia hampir menyerah. Semua itu kini terasa seperti potongan cerita dari kehidupan orang lain.

Suatu siang, Rudi duduk sendirian di bawah pohon tempat mereka dulu sering menghabiskan waktu istirahat. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah. Ia menutup mata, dan tawa itu kembali terdengar di kepalanya.

“Kita bakal ingat momen ini nggak, ya?” suara Hanum terngiang.

“Pasti,” jawab Rudi dalam ingatannya sendiri.

Kini, janji itu terasa menyakitkan. Mengingat ternyata lebih berat daripada melupakan.

Hanum pun tak luput dari serangan kenangan. Saat membersihkan meja belajarnya di rumah, ia menemukan kertas lipat kecil bertuliskan lelucon bodoh yang pernah diberikan Rudi. Ia tertawa kecil, lalu terdiam. Tawa itu berubah menjadi senyum pahit.

“Kenapa hal sesederhana ini bisa bikin sesakit ini?” gumamnya.

Ia mencoba menyimpan kembali kertas itu, tetapi tangannya gemetar. Kenangan indah itu seperti pisau bermata dua, menghangatkan sekaligus melukai.

Di tempat lain, Sari membuka buku catatan lamanya. Di sela-sela halaman, terdapat coretan kecil tentang hari-hari bersama Rudi dan Hanum. Ia membaca satu per satu, perlahan.

Hari ini Rudi tertawa lebih lama.
Hanum membawa bekal untuk bertiga.

Tulisan itu sederhana, namun membuat dadanya terasa penuh. Ia menutup buku itu dan menarik napas panjang. Kesunyian kamar terasa semakin nyata.

“Aku pikir kenangan akan membuatku kuat,” bisiknya pelan. “Ternyata juga bisa melukai.”

Beberapa hari kemudian, mereka bertiga tanpa sengaja berada di tempat yang sama yaitu perpustakaan sekolah. Rudi sedang mencari buku, Hanum duduk di dekat jendela, dan Sari berada di sudut ruangan. Pandangan mereka bertemu singkat, lalu cepat dialihkan.

Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum. Hanya keheningan yang sarat makna.

Namun justru dalam keheningan itu, kenangan lama terasa semakin hidup. Cara mereka dulu saling bercanda di tempat yang sama, cara mereka berbagi cerita tanpa beban. Kini, tempat itu menjadi saksi bisu perubahan yang menyakitkan.

Rudi keluar lebih dulu. Hanum menatap jendela lebih lama dari biasanya. Sari menutup bukunya tanpa benar-benar membaca halaman terakhir.

Kenangan indah itu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di sudut hati masing-masing, berubah menjadi luka yang tidak terlihat, namun terasa setiap kali teringat. Luka itu bukan tanda kebencian, melainkan bukti bahwa perasaan yang pernah ada memang nyata.

Di balik rasa sakit itu, perlahan muncul kesadaran baru. Kenangan tidak harus dihapus agar seseorang bisa melangkah maju. Ia hanya perlu diterima, bahwa sesuatu yang indah pernah hadir, dan karena itulah, kehilangannya terasa begitu dalam.

*Bersambung

 

EPISODE LENGKAPNYA : 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *