3 Sejoli

3 Sejoli (Episode 11)

Posted on

Judul : 3 Sejoli
Bagian 11 : Sari dalam Sunyi yang Setia

Berbeda dengan Hanum yang memilih menunjukkan jarak, Sari justru semakin tenggelam dalam kesunyian yang ia kenal baik. Tidak ada perubahan sikap yang mencolok, tidak ada kata-kata yang dilontarkan dengan nada berbeda. Dari luar, Sari tetap terlihat sama : tenang, sopan, dan seolah tidak terpengaruh apa pun. Namun di dalam dirinya, ada perasaan yang terus berjuang agar tidak meluap.

Pagi-pagi Sari selalu datang tepat waktu. Ia duduk di bangkunya, membuka buku, dan mulai menulis bahkan sebelum pelajaran dimulai. Bukan karena terlalu rajin, melainkan karena menulis memberinya alasan untuk tidak menoleh ke belakang. Ia tahu, sekali saja ia melihat Rudi terlalu lama, perasaan yang selama ini ia jaga rapi bisa terbaca dengan mudah.

Rudi memperhatikan perubahan itu, meski tidak sepenuhnya memahaminya.

“Kamu akhir-akhir ini sibuk sekali,” katanya suatu pagi.

Sari berhenti menulis, lalu menoleh sebentar. “Biasa saja.”

Nada suaranya datar, tidak menolak, tidak mengundang. Rudi mengangguk, tetapi ada rasa kehilangan kecil yang muncul. Sari yang dulu sering menanggapi dengan kalimat singkat kini lebih memilih diam.

Jam istirahat, Sari hampir selalu pergi sendiri. Kadang ke perpustakaan, kadang duduk di taman sekolah dengan buku di pangkuan. Ia menikmati kebiasaan itu, atau setidaknya berusaha menikmatinya. Kesendirian membuatnya aman dari kemungkinan terlihat lemah.

Di perpustakaan, Sari duduk di dekat jendela. Cahaya masuk lembut, menenangkan pikirannya. Ia membuka buku, tetapi matanya berhenti di satu halaman tanpa benar-benar membaca.

“Kenapa rasanya sesulit ini?” gumamnya pelan.

Kesetiaannya bukan tentang menunggu dipilih, melainkan tentang menjaga perasaan agar tidak melukai siapa pun. Ia tahu Rudi sedang berada di persimpangan, dan ia memilih menjadi sisi yang tidak menambah beban. Diam menjadi caranya mencintai.

Suatu sore, Rudi menyusul Sari ke taman sekolah. Langit mendung, angin berembus pelan.

“Kamu pulang sendirian lagi?” tanya Rudi.

Sari mengangguk. “Biasanya juga begitu.”

Rudi duduk di bangku yang sama, menjaga jarak. “Kamu menjauh.”

Sari tersenyum tipis. “Aku hanya memberi ruang.”

“Ruang buat siapa?” tanya Rudi.

“Buat kamu,” jawab Sari jujur.

Jawaban itu membuat Rudi terdiam. Sari menatap ke depan, tidak ingin melihat reaksi di wajah Rudi.

“Aku tahu kamu sedang bingung,” lanjut Sari pelan. “Dan aku nggak mau jadi alasan yang bikin kamu makin berat.”

Rudi menatapnya lama. “Tapi kamu juga penting.”

Sari mengangguk pelan. “Aku tahu. Itu sebabnya aku memilih diam.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan sedih, melainkan dengan keteguhan. Kesetiaan Sari bukanlah menuntut, melainkan bertahan dalam sunyi. Ia tidak meminta Rudi memilihnya, tidak juga memintanya menjauh. Ia hanya ingin menjaga sesuatu yang lebih besar dari perasaan pribadi yaitu persahabatan yang telah mereka bangun bersama.

Malam hari, Sari duduk di kamarnya, menatap langit dari balik jendela. Ia menuliskan sesuatu di buku kecilnya, bukan untuk dibaca orang lain.

Jika diam adalah caraku mencintai, maka aku akan melakukannya tanpa menyesal.

Air matanya jatuh satu, lalu berhenti. Tidak ada tangisan panjang, hanya kelelahan yang perlahan diterima. Sari tahu, kesetiaan tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan, tetapi ia percaya bahwa ketulusan tidak pernah sia-sia.

Dalam sunyi yang setia itu, Sari tetap berjalan di sisi Rudi, tidak di depan, tidak menuntut arah, hanya memastikan bahwa ketika keputusan akhirnya diambil, ia tidak menjadi alasan runtuhnya segalanya.

*Bersambung

 

EPISODE LENGKAPNYA : 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *