3 sejoli

3 Sejoli (Episode 13)

Posted on

Judul : 3 Sejoli
Bagian 13 : Kata Jujur yang Terlambat Datang

Keputusan itu akhirnya terbentuk, bukan sebagai keyakinan yang utuh, melainkan sebagai kelelahan yang tak bisa lagi ditunda. Rudi menyadari bahwa semakin lama ia diam, semakin dalam luka yang ia ciptakan. Kejujuran yang seharusnya menyembuhkan kini terasa datang terlambat, membawa risiko yang lebih besar daripada jika diucapkan sejak awal.

Pagi itu langit mendung, seolah memahami kegelisahan yang mengendap di dada Rudi. Ia datang ke sekolah dengan langkah pelan, napasnya berat. Di kelas, Hanum sudah duduk di tempatnya, wajahnya tenang namun mata itu tidak lagi berbinar seperti dulu. Sari duduk di depan, sikapnya tetap rapi, tetap tenang, namun ada jarak yang kini terasa nyata.

Rudi memandang keduanya bergantian. Tidak ada lagi ruang aman untuk menunda.

Bel istirahat berbunyi. Kali ini, Rudi berdiri lebih dulu.

“Hanum… Sari,” panggilnya pelan. “Bisa kita ngobrol sebentar?”

Hanum menoleh, ragu sejenak, lalu mengangguk. Sari juga mengangguk tanpa bertanya. Mereka berjalan ke taman kecil di belakang sekolah, tempat yang jarang ramai. Angin bertiup pelan, dedaunan berguguran di sekitar mereka.

Rudi berdiri di hadapan dua orang yang paling berarti dalam hidupnya akhir-akhir ini. Tangannya gemetar ringan.

“Aku minta maaf,” ucapnya membuka percakapan. “Karena terlalu lama diam.”

Hanum menyilangkan tangan, berusaha terlihat kuat. “Kamu mau jujur sekarang?”

“Iya,” jawab Rudi. “Meski aku tahu mungkin sudah terlambat.”

Sari menatap Rudi dengan tenang. “Katakan saja.”

Rudi menarik napas dalam. “Perasaanku berubah. Kalian berdua berarti, tapi dengan cara yang berbeda. Dan aku takut… takut kehilangan salah satu dari kalian.”

Hanum tertawa kecil, pahit. “Dan karena takut itu, kamu memilih membuat kami menunggu.”

Rudi menunduk. “Aku salah.”

Keheningan jatuh. Hanya suara angin yang terdengar.

Sari akhirnya berbicara. “Aku tahu kamu bingung. Aku juga tahu kenapa kamu diam.”

Ia menatap Rudi dengan mata yang tenang namun lelah. “Tapi diam itu juga pilihan, Rudi.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada kemarahan. Rudi mengangguk, matanya berkaca-kaca.

“Aku nggak mau kalian terluka,” katanya pelan.

Hanum menghela napas panjang. “Luka itu sudah ada, Rud. Bukan karena siapa yang kamu pilih, tapi karena kamu terlalu lama tidak memilih.”

Air mata akhirnya jatuh di pipi Hanum, meski ia cepat menyekanya.

“Aku berharap,” lanjut Hanum, suaranya bergetar, “tapi aku juga capek berharap.”

Rudi ingin meraih tangannya, namun urung. Ia tahu, sentuhan apa pun kini bisa salah arti.

Sari menatap Hanum sejenak, lalu kembali ke Rudi. “Kejujuranmu tetap penting, meski terlambat. Setidaknya sekarang, kita tahu harus melangkah ke mana.”

Rudi menelan ludah. “Apa aku masih punya kesempatan memperbaiki?”

Hanum terdiam cukup lama. “Aku nggak tahu,” jawabnya jujur. “Aku cuma tahu, aku butuh waktu.”

Sari mengangguk. “Kita semua butuh waktu.”

Bel masuk kembali berbunyi dari kejauhan. Percakapan itu harus berakhir, meski belum benar-benar selesai. Mereka berjalan kembali ke kelas tanpa saling bicara. Jarak di antara mereka terasa lebih nyata, namun juga lebih jujur.

Rudi duduk di bangkunya dengan dada terasa kosong. Kejujuran akhirnya terucap, tetapi tidak membawa kelegaan yang ia bayangkan. Kata jujur itu datang terlambat tapi cukup untuk membuka kebenaran, namun juga cukup untuk mengubah segalanya.

Namun di balik rasa bersalah itu, Rudi menyadari satu hal. Keheningan telah berakhir. Apa pun yang terjadi setelah hari itu, hubungan mereka tidak lagi dibangun di atas kebohongan yang dibungkus dengan diam.

*Bersambung

 

EPISODE LENGKAPNYA : 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *