3 Sejoli

3 Sejoli (Episode 12)

Posted on

Judul : 3 Sejoli
Bagian 12 : Rudi Terjebak Perasaan Sendiri

Hari-hari Rudi berjalan dengan langkah yang terasa lebih berat. Di sekolah, ia tetap duduk di bangku yang sama, mendengar suara yang sama, melihat wajah yang sama, tetapi perasaannya tidak lagi utuh. Hanum yang kini lebih menjaga jarak dan Sari yang semakin tenggelam dalam diam membuat Rudi merasa berada di tengah ruang sempit tanpa pintu keluar.

Pagi itu, Rudi datang lebih awal dan duduk sendirian. Ia memandangi dua bangku di sekitarnya, menyadari betapa kehadiran Hanum dan Sari selama ini telah mengisi ruang-ruang kecil dalam hidupnya. Tanpa mereka, kelas terasa kosong meski dipenuhi banyak orang.

Ketika Hanum datang, ia hanya mengangguk singkat sebelum duduk. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada candaan. Rudi ingin membuka percakapan, tetapi kata-kata terasa tertahan di tenggorokan. Beberapa menit kemudian, Sari masuk dan langsung duduk di bangku depannya tanpa menoleh ke belakang.

Keheningan itu membuat Rudi merasa semakin terasing.

Saat pelajaran berlangsung, Rudi tidak benar-benar mendengarkan. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang berulang. Apa yang sebenarnya ia inginkan? Siapa yang ia takuti untuk dilukai? Semakin ia mencoba mencari jawaban, semakin ia terjebak dalam kebingungan sendiri.

Jam istirahat tiba, tetapi Rudi tetap duduk di kelas. Hanum keluar bersama teman-temannya, tertawa pelan, seolah mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Sari melangkah ke luar dengan tenang, membawa buku seperti biasa.

Rudi akhirnya berdiri dan berjalan ke lorong belakang sekolah. Ia duduk di tangga yang jarang dilewati orang, tempat yang biasanya sunyi. Di sana, ia bisa bernapas tanpa harus berpura-pura.

“Aku harus gimana…” gumamnya pelan.

Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk menjaga perasaan semua orang hingga melupakan dirinya sendiri. Ketakutannya untuk menyakiti Hanum membuatnya menahan kejujuran. Keinginannya untuk melindungi Sari membuatnya ragu melangkah. Pada akhirnya, ia justru menyakiti keduanya dengan kebisuan yang berkepanjangan.

Sore hari sepulang sekolah, Rudi berjalan sendirian. Langkahnya lambat, pikirannya penuh. Di persimpangan jalan, ia berhenti cukup lama, menatap dua arah yang berbeda antara jalan menuju rumah Hanum dan jalan menuju rumah Sari. Pemandangan itu terasa seperti simbol dari kebimbangannya sendiri.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Hanum.

Hanum:
Kamu baik-baik saja?

Tak lama kemudian, pesan lain masuk.

Sari:
Hati-hati di jalan.

Dua pesan singkat itu membuat dada Rudi terasa sesak. Perhatian yang datang bersamaan justru menegaskan betapa ia terjebak dalam perasaannya sendiri. Ia ingin membalas dengan kejujuran, tetapi hanya mampu mengetik jawaban aman.

Rudi:
Aku baik-baik saja. Terima kasih.

Malam itu, Rudi duduk di kamarnya dengan lampu mati. Ia menatap langit-langit, membiarkan pikirannya mengalir tanpa arah. Untuk pertama kalinya, ia mengakui pada dirinya sendiri bahwa kebingungan ini tidak akan hilang dengan sendirinya.

“Aku harus berhenti lari,” bisiknya pelan.

Rudi menyadari bahwa berada di tengah bukanlah posisi yang aman. Semakin lama ia bertahan di sana, semakin besar luka yang tercipta. Terjebak dalam perasaan sendiri membuatnya kehilangan arah, namun juga membuka mata, kejujuran mungkin menyakitkan, tetapi kebisuan hanya akan memperpanjang penderitaan.

Malam itu menjadi titik sunyi di mana Rudi mulai memahami bahwa keberanian bukan tentang memilih tanpa rasa takut, melainkan tentang menerima konsekuensi dari kejujuran yang akhirnya harus diucapkan.

*Bersambung

 

EPISODE LENGKAPNYA : 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *