3 Sejoli

3 Sejoli (Episode 10)

Posted on

Judul : 3 Sejoli
Bagian 10 : Hanum dan Harapan yang Rapuh

Sejak percakapan singkat di taman sekolah itu, Hanum merasa dunia berjalan dengan cara yang berbeda. Segalanya masih tampak sama (kelas yang sama, bangku yang sama, wajah-wajah yang sama) namun perasaannya tak lagi utuh. Senyum yang biasanya mudah muncul kini terasa seperti topeng yang harus ia kenakan agar tidak ada yang menyadari kegelisahan di dalam dirinya.

Pagi itu Hanum datang lebih awal. Ia duduk sendirian, menatap jendela dengan pikiran yang melayang. Rudi belum datang, dan entah mengapa, ia berharap sekaligus takut melihatnya. Harapan itu terasa rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah oleh satu kata saja.

Saat Rudi akhirnya masuk kelas, Hanum tidak langsung menoleh. Ia berpura-pura sibuk dengan buku catatannya. Namun langkah Rudi yang berhenti di samping bangkunya membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Pagi, Num,” sapa Rudi pelan.

“Pagi,” jawab Hanum tanpa menatapnya.

Keheningan singkat tercipta. Rudi duduk, dan suasana terasa kaku. Tidak ada candaan, tidak ada cerita seperti biasanya. Hanum menyadari betul perubahan itu, dan justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak.

Sepanjang pelajaran, Hanum sulit berkonsentrasi. Kata-kata guru terdengar samar, pikirannya sibuk menafsirkan setiap gerak Rudi. Sesekali ia melihat Rudi menatap ke depan, ke arah Sari. Tatapan itu membuat Hanum menunduk lebih dalam.

Jam istirahat tiba. Biasanya Hanum menjadi orang pertama yang berdiri dan mengajak pergi, tetapi kali ini ia tetap duduk. Sari berdiri lebih dulu, lalu menoleh ke arah mereka.

“Aku ke perpustakaan,” ujar Sari singkat.

Rudi mengangguk. “Oke.”

Sari pergi, meninggalkan Hanum dan Rudi berdua di kelas yang mulai kosong. Kesempatan yang biasanya diharapkan kini terasa menakutkan.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini?” tanya Rudi akhirnya.

Hanum tertawa kecil, terdengar getir. “Kamu benar-benar nanya itu?”

Rudi terdiam. “Aku cuma ingin kamu baik-baik saja.”

Hanum menatapnya. “Aku baik-baik saja. Aku cuma… capek berharap.”

Kata itu membuat Rudi tercekat. “Harap apa?”

Hanum mengalihkan pandangan. “Harap kamu melihatku dengan cara yang sama.”

Suasana menjadi sunyi. Hanum menggenggam ujung mejanya erat, berusaha menahan getar di tangannya.

“Aku tahu kamu lagi bingung,” lanjut Hanum pelan. “Aku juga tahu aku bukan satu-satunya alasan kebingungan itu.”

Rudi menunduk. “Num, aku nggak mau menyakiti siapa pun.”

Hanum tersenyum tipis. “Kadang, tanpa sadar, kita tetap menyakiti.”

Bel istirahat hampir usai. Hanum berdiri, merapikan tasnya.

“Aku nggak minta kamu memilih sekarang,” katanya. “Aku cuma minta kamu jujur, suatu hari nanti.”

Rudi mengangguk. “Aku janji.”

Sore harinya, Hanum pulang lebih cepat dari biasanya. Di kamar, ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya. Ia membuka percakapan lama dengan Rudi, membaca ulang pesan-pesan sederhana yang dulu terasa begitu berarti. Kini, setiap kata terasa seperti pengingat akan harapan yang belum tentu terwujud.

Air mata akhirnya jatuh, perlahan dan sunyi. Bukan karena marah, melainkan karena takut. Takut berharap terlalu jauh, takut kehilangan bukan hanya cinta, tetapi juga persahabatan yang telah menjadi tempatnya pulang.

Malam itu, Hanum berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak, meski hatinya belum siap. Harapan itu masih ada, namun begitu rapuh. Satu keputusan dari Rudi bisa menjadi penopang, atau justru menjadi alasan runtuhnya semua yang selama ini ia jaga dengan senyum.

*Bersambung

 

EPISODE LENGKAPNYA : 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *