3 sejoli

3 Sejoli (Episode 9)

Posted on

Judul : 3 Sejoli
Bagian 9 : Pilihan yang Mengguncang Persahabatan

Hari itu datang tanpa tanda apa pun, namun suasananya terasa berbeda sejak pagi. Udara kelas lebih sunyi, bukan karena kurangnya suara, melainkan karena jarak yang mulai terasa di antara mereka. Rudi masuk kelas lebih lambat dari biasanya. Hanum sudah duduk di bangkunya, menatap ke luar jendela dengan wajah yang sulit ditebak. Sari berada di depan, tubuhnya tegak, tangannya sibuk menulis seperti ingin menghindari dunia di sekitarnya.

Pelajaran berlangsung tanpa banyak interaksi. Rudi lebih sering terdiam, pikirannya sibuk menyusun keberanian yang belum juga terkumpul. Ia tahu, malam panjang kemarin bukan sekadar kegelisahan sementara. Ada keputusan yang tak bisa lagi ditunda.

Saat bel istirahat berbunyi, Hanum berdiri lebih dulu.
“Aku ke kantin,” katanya singkat.

Biasanya ia akan menunggu Rudi atau menariknya ikut serta, tetapi kali ini ia berjalan sendiri. Rudi menatap punggung Hanum yang menjauh, lalu melirik ke arah Sari. Sari tidak menoleh, seolah tak ingin terlibat.

Rudi berdiri dan mengikuti Hanum. Di koridor sekolah, langkah Hanum terdengar cepat.

“Hanum,” panggil Rudi.

Hanum berhenti, namun tidak langsung menoleh. “Ada apa?”

Rudi menarik napas dalam. “Kita bisa ngobrol sebentar?”

Hanum menoleh, senyumnya tipis. “Sekarang?”

“Iya.”

Mereka duduk di bangku panjang dekat taman sekolah. Angin berembus pelan, menggoyangkan dedaunan kering.

“Ada yang mau kamu bilang?” tanya Hanum, suaranya tenang namun berjaga.

Rudi menatap tangannya sendiri. “Aku merasa… kita bertiga akhir-akhir ini berubah.”

Hanum tertawa kecil, tapi terdengar hambar. “Kamu baru sadar?”

Rudi terdiam. “Aku nggak mau kita jadi asing.”

Hanum memandangnya lama. “Kalau begitu, jujur saja.”

Kata itu membuat Rudi tercekat. Ia mengangguk pelan. “Aku lagi bingung, Num. Perasaanku… nggak sesederhana dulu.”

Hanum menunduk. Tangannya mengepal di atas pangkuan. “Kamu nggak perlu jelasin panjang-panjang. Aku sudah tahu.”

Rudi terkejut. “Kamu tahu?”

Hanum tersenyum pahit. “Perhatianmu berubah. Cara kamu melihat Sari juga berubah.”

Nama itu menggantung di udara, membuat dada Rudi terasa semakin berat.

“Aku nggak ingin kehilangan kalian,” ujar Rudi pelan.

Hanum berdiri. “Tapi kamu harus memilih, Rud.”

Kalimat itu seperti pisau yang tajam. Tanpa menunggu jawaban, Hanum melangkah pergi.

Rudi kembali ke kelas dengan langkah berat. Di depan kelas, Sari masih duduk di bangkunya. Saat Rudi masuk, Sari menoleh sebentar.

“Kamu nggak ke kantin?” tanya Sari.

“Sudah,” jawab Rudi singkat.

Suasana terasa canggung. Rudi duduk di bangkunya, mencoba mengumpulkan kata.

“Sari,” ucapnya akhirnya.

Sari menoleh. “Iya?”

“Ada waktu sebentar setelah sekolah?”

Sari mengangguk tanpa bertanya. “Ada.”

Sepulang sekolah, mereka berdiri di halaman yang mulai sepi. Matahari condong ke barat, meninggalkan bayangan panjang di tanah.

“Kamu mau bilang apa?” tanya Sari pelan.

Rudi menatap wajah Sari yang tenang. “Aku nggak mau bohong lagi.”

Sari menarik napas dalam. “Aku juga.”

Rudi terdiam. Kata-kata itu terasa berat. Ia menyadari bahwa apa pun yang akan ia katakan, dampaknya tidak akan kecil.

“Aku sedang di persimpangan,” ujar Rudi akhirnya. “Dan aku tahu, persimpangan itu bisa merusak persahabatan kita.”

Sari menatapnya lama. “Tapi diam juga bisa lebih menyakitkan.”

Rudi mengangguk. Pilihan itu kini berdiri di hadapannya, nyata dan tak terelakkan.

Hari itu menjadi titik awal retaknya keseimbangan yang selama ini mereka jaga. Pilihan belum diucapkan sepenuhnya, namun getarannya sudah cukup untuk mengguncang persahabatan yang mereka bangun bersama.

*Bersambung

 

EPISODE LENGKAPNYA : 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *