Judul : 3 Sejoli
Bagian 7 : Cemburu yang Tak Pernah Diucapkan
Cemburu itu tidak pernah hadir sebagai amarah atau kata-kata tajam. Ia datang diam-diam, bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan dan sikap yang tetap terlihat wajar. Tidak ada yang berani mengakuinya, bahkan pada diri sendiri. Namun rasa itu tumbuh, pelan tapi pasti, menyusup ke ruang-ruang kecil dalam kebersamaan mereka.
Pagi itu suasana kelas terasa lebih ramai dari biasanya. Guru belum datang, dan beberapa siswa berkumpul di sudut-sudut kelas. Hanum duduk di samping Rudi, seperti biasa, bercerita tentang acara sekolah minggu depan. Tangannya bergerak cepat, suaranya penuh semangat.
“Katanya nanti ada pentas seni,” ujar Hanum. “Aku kepikiran buat ikut.”
Rudi menoleh, tertarik. “Serius? Kamu mau tampil apa?”
“Nyanyi, mungkin,” jawab Hanum sambil tersenyum lebar. “Kalau kamu nonton, aku jadi lebih berani.”
Rudi tertawa kecil. “Ya jelas aku nonton.”
Percakapan itu terdengar ringan, tapi dari bangku depan, Sari mendengarnya dengan jelas. Tangannya yang sedang menulis berhenti sesaat. Dadanya terasa mengencang, bukan karena marah, melainkan karena perasaan asing yang mulai terlalu sering datang. Ia menunduk lebih dalam, berusaha kembali fokus pada catatannya.
Saat jam istirahat, Hanum menarik Rudi ke kantin lebih dulu.
“Ayo, keburu ramai,” katanya.
Sari berjalan di belakang mereka, menjaga jarak tanpa sengaja. Ia melihat bagaimana Hanum berbicara sambil sesekali menyentuh lengan Rudi, sesuatu yang dulu tak pernah ia perhatikan. Setiap tawa Hanum terdengar sedikit lebih keras di telinganya.
Di kantin, Hanum duduk berhadapan dengan Rudi. Mereka berbincang akrab, sesekali tertawa. Sari duduk di samping, lebih banyak diam.
“Kamu kenapa, Sar?” tanya Hanum. “Kok dari tadi pendiam?”
Sari mengangkat wajahnya, tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Lagi mikir saja.”
Rudi menatapnya sebentar, seolah ingin bertanya lebih jauh, namun mengurungkan niatnya. Perhatian kecil itu justru membuat Sari semakin sulit menenangkan perasaannya.
Hari-hari berikutnya, perasaan itu semakin sering muncul. Saat Rudi menunggu Hanum selesai berbicara dengan teman lain, Sari merasakan sesuatu yang mengganggu ketenangannya. Bukan karena takut kehilangan, melainkan karena sadar bahwa perasaannya sudah terlalu jauh.
Di sisi lain, Hanum pun mulai merasakan hal yang sama, meski dengan cara berbeda. Suatu sore, ia melihat Rudi duduk berdua dengan Sari di perpustakaan. Mereka tidak tertawa, tidak berbicara banyak, hanya duduk berhadapan dengan buku terbuka di antara mereka.
Entah mengapa, pemandangan itu membuat langkah Hanum terhenti.
“Kalian lagi apa?” tanyanya sambil mendekat.
“Belajar,” jawab Rudi singkat.
Sari mengangguk. “Ada tugas yang belum selesai.”
Hanum tersenyum, duduk di samping Rudi. “Oh, kirain lagi ngobrol serius.”
Nada suaranya tetap ceria, namun ada sesuatu yang terasa tertahan. Ia tidak menyukai rasa yang muncul itu, rasa yang membuatnya ingin lebih diperhatikan, lebih diutamakan.
Malam hari, ketiganya menyimpan perasaan masing-masing. Rudi mulai menyadari perubahan suasana. Tatapan Sari terkadang lebih lama, namun cepat dialihkan. Hanum masih tertawa, namun sesekali terdiam tanpa alasan jelas.
Rudi duduk di kamarnya, memikirkan hari itu. Ia menyadari bahwa setiap kali Hanum tertawa dengan orang lain, ada rasa tak nyaman yang muncul. Setiap kali Sari menjauh, ada kekosongan yang tak bisa dijelaskan. Perasaan itu saling bertabrakan, membuatnya sulit bernapas.
Esok harinya, mereka berjalan pulang bersama seperti biasa. Langit mendung, langkah mereka pelan.
“Kalian sadar nggak,” ujar Hanum tiba-tiba, “akhir-akhir ini kita sering diam.”
Rudi mengangguk. “Sedikit.”
Sari menatap jalan di depannya. “Mungkin karena capek.”
Tak ada yang membantah. Tak ada yang mengaku. Cemburu itu tetap tersembunyi, tak pernah diucapkan, namun hadir dalam setiap jarak kecil yang mulai tercipta.
Mereka masih berjalan bersama, masih tertawa di waktu-waktu tertentu, tetapi ada perasaan baru yang ikut melangkah. Perasaan yang tidak diundang, tidak diakui, dan justru karena itulah menjadi semakin kuat.
*Bersambung
EPISODE LENGKAPNYA :
- Episode 1 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-1/
- Episode 2 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-2/
- Episode 3 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-3/
- Episode 4 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-4/
- Episode 5 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-5/
- Episode 6 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-6/
- Episode 7 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-7/
- Episode 8 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-8/
- Episode 9 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-9/
- Episode 10 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-10/
- Episode 11 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-11/
- Episode 12 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-12/
- Episode 13 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-13/
- Episode 14 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-14/
- Episode 15 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-15/
- Episode 16 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-16/
- Episode 17 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-17/
- Episode 18 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-18/
- Episode 19 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-19/
- Episode 20 : https://mystorys.id/3-sejoli-episode-20/
